Chapter 1. Perjuangan untuk MENANG!

0 comments Friday, May 8, 2009
Hidup kadang tidaklah sepahit yang kita rasakan. Bila kita cari-curi di baliknya, akan kita temukan banyak sekali hikmah. Dulu, semasa SD, aku termasuk anak dengan prestasi rata-rata. Seingatku, aku hanya mendapatkan peringkat 10 besar sekali….T_T

Alhamdulillah, secara “ajaib” setelah lulus SD aku berhasil menembus SMP favorit di kotaku…Meskipun nilaiku sudah hampir memasuki batas-batas ‘degradasi’… Bahkan, karena khawatir tidak bisa masuk ke SMP favorit tersebut, aku (diantar kakakku) terpaksa melamar ke sekolah lain.

Episode berlanjut, dan akhirnya di SMP aku di”bantai” habis-habisan oleh teman-temanku sekelas. Bahkan waktu kelas II, aku sempat menderita kekalahan telak berupa peringkat 10 besar (dari bawah tentunya). Mungkin hal ini disebabkan karena di kala itu waktu untuk bermain terlalu banyak dan longgar. Misalnya, jika ada jam pelajaran terakhir yang kosong, aku dan teman-teman langsung ‘nyerbu’ ke tempat permainan PS (PlayStation) terdekat.… Namun akhirnya, aku berhasil menemukan sedikit ritme permainanku waktu SMP kelas III. Buktinya, setelah lulus aku bisa masuk ke salah satu SMA favorit juga di kotaku, Hebat bukan…?
***
Kelas I SMA…Beberapa sahabatku waktu SMP kini menjadi teman kelasku. Namun, tidak banyak kejadian yang berkesan saat SMA kelas I kecuali pengalaman OSPEK yang ‘gila-gilaan’…..

Kelas II SMA, di sini aku dan teman-temanku mulai mengalami persaingan yang ‘aneh’. Hingga kini aku masih merasa heran, walaupun prestasiku tidak begitu meyakinkan, tapi beberapa kali aku dipilih untuk mengikuti seleksi OLIMPIADE…

Kelas III SMA…Dari sinilah perjuangan berat dan persaingan yang panas itu dimulai. Salah seorang temanku yang dulu ‘selevel’ denganku kini prestasinya merangkak (bahkan melompat) naik. Dialah yang kujadikan ‘RIVAL’. Merasa tersaingi, aku pun berusaha keras untuk mengunggulinya sampai titik darah penghabisan..Namun, pada akhirnya aku tak bisa melewatinya… akhirnya, dia (my rival) diterima di Teknik Nuklir UGM melalui Ujian Masuk UGM tahun 2007 sebelum pindah ke FK Unsoed tahun 2008.
***
Perjuanganku pun berlanjut untuk menghadapi The Biggest and Hottest Test in Indonesia, yakni UJIAN SPMB.. ;-(
To be continued…..
Read On

Kwahiorkor dan Marasmus Akibat Gizi Buruk (Kasus)

0 comments
Seorang anak buruh tani yang berumur 3 tahun diperiksakan ke Puskesmas dengan keluhan badan lemah, udem muka dan kedua ekstremitas inferior sejak 2 bulan. Berdasarkan laporan, sehari-hari dia makan dua kali dengan menu nasi dan sayur seadanya. Sejak dua tahun yang lalu anak tersebut mengalami diare kronis kalau minum susu formula yang mengandung laktosa. Konsistensi faeces cair, berbuih, keluar menyemprot, frekuensi 5-6x/hari dan dirawat di RS dengan diagnosis intoleran laktosa. Dari pemeriksaan fisik didapatkan rambut kemerahan, tumbuh jarang, mudah dicabut, dan tidak terasa sakit. Abdomen membuncit, ada pitting udem di ekstremitas inferior.

Pembahasan:
Gizi buruk tidak hanya disebabkan karena defisiensi kualitas nutrisi, tapi juga kualitas nutrisi. Pada hakekatnya sistem tubuh dapat berkembang dengan baik jika asupan nutriennya juga memadai. Karbohidrat, lemak, dan protein memegang peran penting dalam menjaga ketersediaan energi dalam tubuh. Ketiga zat gizi tersebut harus ada dalam keadaan proporsional.
Oleh karena itu, apabila bayi hanya diberikan karbohidrat saja atu lemak saja atau bahkan hanya protein saja, tidak akan memberikan efek signifikan terhadap tumbuh kembangnya. Hal ini dapat mengakibatkan defisiensi yang akut (Corwin, 2000).

Gejala penting yang menunjukkan kwashiorkor adalah hipoalbuminemia, edema, dan perlemakan hati. Hipoalbuminemia mencerminkan pasokan asam amino yang tidak memadai dari protein, sehingga mengganggu sintesis albumin serta protein lain (transferin) oleh hati. Edema disebabkan oleh tekanan osmotik yang rendah di dalam plasma sebagai akibat hipoalbuminemia. Sintesis protein plasma oleh hati juga menurun; keadaan ini pada gilirannya akan mengganggu pengaliran trigliserida dan lipid lain keluar dari hati sehingga terjadi perlemakan hati.

Sistem imun pada kekurangan kalori protein akan terganggu, khususnya fungsi sel T. Dengan demikian, penderita kekurangan kalori protein sangat rentan terhadap infeksi. (misal: sehingga menyebabkan diare), dan infeksi memperburuk keadaan lebih lanjut dengan meningkatkan kebutuhan metabolik, misal melalui demam. Kekurangan energi protein juga mengakibatkan sintesis enzim terganggu, misal enzim laktosa, maka timbulah intoleran laktosa karena defisiensi laktase.


Read On

Revisi Laporan Field Lab Kelompok 1

0 comments Friday, May 1, 2009

Seiring berkembangnya teknologi di bidang kedokteran, muncullah teknologi vaksin untuk mencegah penyakit infeksi yang masuk ke dalam tubuh (Bellanti, JA, 1993). Salah satu upaya pemberantasan penyakit menular tersebut seperti yang dikemukakan dalam Undang-Undang Kesehatan Nomor 23 Tahun 1992 mengenai “Paradigma Sehat” yaitu upaya pengebalan (imunisasi).
Bukti keberhasilan metode ini dalam mencegah penularan berbagai penyakit telah lama diakui. Pada tahun 1980 WHO menyatakan penyakit cacar telah dilenyapkan (Winulyo EB & Samsuridjal D, 2007). Demikian pula dengan polio yang dewasa ini sudah dapat dilenyapkan di banyak negara (Baratawidjaja, KG, 2006).
Untuk itulah, dilakukan kegiatan field lab yang dilakukan pada hari Kamis, 23 April 2009, di sana dilakukan kegiatan imunisasi di Puskesmas Sibela, Surakarta. Hasil laporan field lab tersebut dapat didownload di sini (khusus untuk kelompok 1 Fakultas Kedokteran UNS).


Untuk itulah, pada hari Kamis, 23 April 2009 dilakukan kegiatan field lab imunisasi di Puskesmas Sibela, Surakarta. Hasil laporan field lab tersebut dapat didownload di sini (khusus untuk kelompok 1 Fakultas Kedokteran UNS).

Read On